Transkrip Wawancara Garda Pangan Surabaya

20/01/2019

Artikel ini merupakan wawancara yang saya lakukan dengan mba Eva Bachtiar salah satu pendiri dan humas Garda Pangan.

Transkrip ini digunakan untuk data artikel Menyelamatkan Pangan Berlebih Ala Garda Pangan Surabaya. Wawancara dilakukan via media sosial. Tidak ada sunting mayor yang dilakukan pada dokumen ini.

Wawancara dilakukan pada tanggal 17 Januari 2019

Mulai kapan sih garda pangan?

Konsep digodok sejak September 2016, namun operasional pertama sejak Juni 2017.

Apa impian atau tujuan dari garda pangan?

GP (Garda Pangan, red.) terbentuk karena concern kami terhadap food waste. Apalagi kalau melihat data statistik, Indonesia sendiri merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar ke-2 di dunia, dimana 1 orang bisa membuang 300kg makanan tiap tahunnya, sementara masih ada 19,4 juta rakyat Indonesia yang masih kelaparan dan berjuang untuk makan setiap harinya.
Kami melihat ada 3 dampak dari food waste itu:

  • Dampak ekonomi, karena ketika kita membuang makanan, sebenarnya yang terbuang bukan hanya makanan itu saja, tapi juga seluruh sumberdaya yang digunakan untuk memproduksi makanan tersebut, termasuk lahan, listrik, bahan bakar, tenaga buruh, transportasi, dll.
  • Dampak lingkungan, karena mungkin belum banyak yang tahu kalau sebenarnya sampah makanan yang tertumpuk di landfill mengeluarkan gas metana yang 23x lebih berbahaya dibanding karbon dioksida dan merupakan salah satu gas penyumbang emisi rumah kaca.
  • Dampak sosial, karena menurut kami sebuah ironi ada makanan terbuang dalam jumlah sangat banyak, sementara masih banyak juga masyarakat yang kelaparan.

Jadi GP terbentuk untuk menghubungkan potensi makanan berlebih ini dengan masyarakat pra-sejahtera yang membutuhkan makanan tersebut.

Garda Pangan adalah startup dan social enterprise dengan dua visi: meminimalisir sampah makanan dan mengentaskan kelaparan, dengan berbasis teknologi aplikasi berbasis website dan aplikasi mobile (dalam pengembangan). Garda Pangan menawarkan sebuah solusi yang disebut food rescue, berupa upaya penyelamatan surplus makanan yang dihasilkan oleh industri ini dari potensi terbuang.

Servis yang ditawarkan Garda Pangan adalah sustainable and responsible food waste management untuk industri hopsitality dan industri makanan, dimana makanan berlebih yang dihasilkan oleh restoran, hotel, kafe, bakery, dan industri makanan lainnya akan disortir dan diperiksa kembali kualitasnya. Makanan yang layak akan dikemas ulang, lalu dibagikan secara bermartabat kepada masyarakat pra-sejahtera yang membutuhkan, sementara makanan yang sudah tidak layak akan diolah menjadi pakan ternak dan kompos.

Mengapa makanan berlebih harus di rescue oleh Garda Pangan?

Ya tidak harus 😀
Kalau bisnis makanan sudah memiliki planning dan rencana distribusi/pengolahan sampah makanan yang baik, tentu lebih ideal. Pada dasarnya kami hadir untuk membantu menghubungkan keberadaan makanan berlebih dengan pihak yang membutuhkan.

Nah, untuk mendorong industry hospitality dan bisnis makanan untuk berpartisipasi, kami menyediakan insentif-insentif, antara lain berupa Laporan Dampak Sosial yang bisa digunakan untuk klaim CSR yang berpengaruh terhadap nama baik perusahaan, Laporan Dampak Lingkungan yang dapat digunakan klien untuk mendapatkan status green-company yang prestisius, Data dan Analisa Timbulan Sampah Makanan yang dapat berguna sebagai bahan informasi untuk menganalisa siklus produksi, serta kemungkinan mendapatkan insentif dari Pemerintah Kota (masih terus diupayakan).

Kemudahan-kemudahan lain yang ditawarkan juga antara lain:

  1. Satu Layanan untuk Semua Kebutuhan Sampah Makanan
    Garda Pangan menerima penjemputan semua jenis sampah makanan, baik itu makanan layak maupun yang sudah melewati masa kadaluarsa. Proses sortir akan dilakukan oleh Garda Pangan sehingga klien tidak perlu repot memisahkan sampah makanan tersebut. Hal ini membedakan Garda Pangan dengan pengepul sampah konvensional yang tidak melakukan proses sortir, dimana semua sampah makanan hanya dikumpulkan untuk satu jenis pengolahan.
  2. Penanganan Makanan Secara Profesional
    Semua tim inti Garda Pangan telah mendapatkan pelatihan untuk penyortiran makanan dengan memperhatikan aspek food-safety. Garda Pangan juga memiliki serangkaian Standard Operating Procedure (SOP) yang dijalankan secara profesional. Selain itu, keseluruhan penanganan makanan dilakukan secara higienis dengan menggunakan sarung tangan dan masker.
  3. Pendataan yang Terstruktur dan Sistematis
    Semua jenis timbulan sampah, jumlah timbulan sampah, jumlah penerima makanan, lokasi penerima manfaat, proses pengolahan sampah, dan berbagai statistik lainnya terus dipantau dan didokumentasikan dalam sistem pendataan yang terstruktur dan sistematis, dimana laporan lengkapnya akan diberikan kepada klien, untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Hal ini juga untuk memastikan bahwa penanganan sampah makanan dilakukan sesuai dengan standar yang telah disepakati.
  4. Layanan Penjemputan yang Mudah dan Praktis
    Klien dapat mengatur jadwal penjemputan sampah makanan yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan, baik jadwal berkala maupun yang sifatnya insidental. Servis ini juga dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu (harian, mingguan, atau bulanan) sesuai kebutuhan donatur atau pengaturan yang diinginkan klien. Pengemasan juga disediakan oleh Garda Pangan (kecuali klien menginginkan sebaliknya), sehingga klien dapat mempercayakan seluruh urusan sampah makanan tanpa direpotkan.

Apa yang membedakan food bank Garda pangan dengan food bank yang lain?

Saya rasa food bank adalah konsep yang general, dan masing-masing food bank punya landasan berpikir dan perspektif yang khas, yang pada akhirnya membedakan aktivitas dan program-program mereka.

Di Garda Pangan, kami fokus pada industri hospitality dan bisnis makanan, karena salah satu entitas penyumbang sampah makanan paling besar adalah industri hospitality (restoran, hotel, bakery, kafe) dan industri makanan --yang sering kali menganggap sampah makanan sebagai hal yang tidak terhindarkan (necessary evil), dan biasanya menghasilkan food waste dalam skala besar dan rutin (daily basis). Apalagi dari sudut pandang bisnis, opsi membuang makanan berlebih lazim dilakukan karena praktek tersebut merupakan opsi yang paling murah, mudah, dan cepat.

Selain itu, kami juga menaruh perhatian besar pada upaya edukasi dan kampanye tentang food waste untuk memastikan bahwa tiap individu juga memiliki awareness yang cukup mengenai dampak food waste ini.

Garda Pangan juga bertekad untuk independen secara pendanaan, yang ditunjukkan dengan berbagai upaya kami untuk menjadi social enterprise dan memiliki sumber pendanaan mandiri, diluar grants dan donasi-donasi.

Siapa yang menjadi target sasaran penerima makanan yang disalurkan Garda Pangan?

Untuk distribusi makanan, penerima manfaat (beneficiaries) utamanya adalah masyarakat pra-sejahtera di Surabaya, yang telah dipilih dengan cermat serta disurvey, agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kategori penerima diantaranya berasal dari kaum dhuafa, yatim piatu, janda, lansia, difabel, pengungsi, dan anak jalanan.

Para penerima manfaat ini dicatat dengan rapi dalam sebuah database komprehensif yang berisi data penerima; termasuk jumlah warga, profesi warga, fasilitas penyimpanan makanan yang tersedia, jam distribusi, serta preferensi makanan. Saat ini terdapat total 110 kantong kemiskinan yang terdata dan terus bertambah. Jumlah dan jenis penerima, wilayah cakupan distribusi lebih lengkapnya di https://gardapangan.org/penerima/

Sejauh ini sudah berapa pihak yang mau menyalurkan makanan berlebihnya ke Garda Pangan?

Sejak mulai beroperasi di bulan Juni 2017, Garda Pangan telah bermitra dengan 1 restoran, 2 tenant makanan, 2 wedding organizer, 1 distributor buah, 3 bakery, dan 1 pasar organik. Hingga saat ini Garda Pangan telah mengumpulkan 52.685 porsi makanan, atau setara dengan 7,9 ton potensi sampah makanan terbuang, dan menyalurkannya kepada 43.590 penerima manfaat. Lebih lengkapnya http://gardapangan.org/mitra

Kesan apa yang disampaikan oleh pihak penyalur ketika tahu tentang Garda Pangan?

Kebanyakan tentu saja sangat senang karena kehadiran food bank merupakan hal yang baru yang dapat membantu mereka mengatasi permasalahan food waste. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, biasanya ada banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang biasanya dimiliki bisnis makanan, antara lain khawatir makanan dijual lagi, khawatir penerima makanan mengalami food-poisoning.

Kekhawatiran inilah yang berusaha kami kurangi dengan konsisten menunjukkan profesionalitas kami, serta dengan adanya laporan-laporan yang sistematis untuk meningkatkan accountability kami.

Saya dengar Garda pangan mulai berjalan setelah ikut 1000 startup, Apa saja yang didapatkan di sana?

Sebenarnya bukan “baru berjalan setelah ikut 1000SD (startup digital, red.), tapi lewat 1000SD banyak membuka network kami dengan pihak-pihak yang potensial. 1000SD sendiri menjadi sarana inkubasi kami yang pertama.

Apakah ada keinginan untuk menjadikan Garda Pangan sebagai bisnis sosial?

Tentu saja. Sedari awal Garda Pangan didirikan dengan semangat social enterprise. Model bisnis yang kami tawarkan adalah layanan sustainable and responsible food waste management untuk industri hospitality dan bisnis makanan. Akan tetapi, mengubah mindset industri untuk lebih peduli pada pembuangan makanan tentu butuh waktu. Oleh karena itu saat ini kami fokus untuk memulai saja dulu, sambil mengedukasi masyarakat dan bisnis makanan, dan terus mengadvokasi pemerintah untuk menciptakan iklim yang kondusif.

Kalau kampanye garda pangan semakin gencar, orang semakin mengerti tentang makanan lebih. Mereka akan semakin sedikit membuang makanan. Apakah ini mengancam eksistensi garda pangan? katakan jika tidak ada lagi makanan berlebih di dunia ini.

Ini anggapan yang keliru dan perlu diluruskan. Ketika semua orang dan bisnis makanan sudah aware dengan persoalan sampah makanan, sehingga tidak ada lagi sampah makanan di Indonesia, saya dengan senang hati akan membubarkan Garda Pangan, karena itu berarti visi besar Garda Pangan telah tercapai.

Ingat, Garda Pangan hadir untuk membantu mengatasi sampah makanan yang sudah ada, karena kehadirannya memang seringkali tidak terhindarkan dan dianggap sebagai necessary evil, khususnya di industry hospitality dan industri makanan. Tapi Garda Pangan juga menaruh perhatian yang cukup besar terhadap upaya pencegahan dan peningkatan awareness yang kami tunjukkan dengan gencarnya upaya edukasi dan campaign tentang sampah makanan, antara lain lewat kampanye-kampanye kreatif di CFD (Car Free Day, red.) dan juga tips-tips praktis mengurangi sampah makanan via media sosial kami.

Ke depan, akan ada pengembangan apa lagi dari garda pangan?

Untuk jangka pendek, saat ini kami ingin fokus memperluas cakupan mitra dan penerima Garda Pangan dengan mengajak semakin banyak bisnis makanan untuk bergabung menjadi mitra, sambil terus konsisten menjalankan food rescue.

Tujuan jangka panjang kami adalah tumbuh menjadi social enterprise yang dapat memiliki sumber dana secara mandiri dan berkelanjutan, agar dapat terus memberi dampak pada masyarakat. Selain itu juga terus menjalankan upaya advokasi ke pemerintah agar mendapatkan dukungan yang dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi para bisnis makanan untuk untuk mulai beralih kepada pengelolaan sampah makanan yang lebih bertanggung jawab.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.