Hari ini 8 Maret dikenal sebagai hari Perempuan Sedunia. Berbagai tokoh perempuan di berbagai bidang ditampilkan sebagai pejuang di lingkungannya masing-masing. Termasuk Greta Thunberg, yang saya putuskan untuk saya ceritakan kisahnya di sini. Ini adalah cerita tentang seorang remaja asal Swedia yang berani bersikap dan bertindak untuk keberlangsungan masa depan bumi.

Greta Thunberg adalah perempuan kelahiran 3 Januari 2003, ia adalah remaja perempuan yang menarik perhatian sejak September yang lalu di depan gedung parlemen Swedia. Di sana ia melakukan protes selama tiga minggu dan harus membolos sekolah.

Apa yang disuarakan oleh Greta yang masih berusia 16 tahun dengan papan Skolstrejk för klimatet (mogok sekolah untuk iklim)?

untuk menandatangani kesepakatan emisi karbon Paris Agreement. Protes ini dilakukan tidak lama usai terjadinya gelombang panas dan kebakaran hebat di Swedia.

Minat Greta pada perubahan iklim telah ada sejak ia umur 9 tahun. Ia mendapatkan anjuran untuk mematikan lampu, menghemat air atau tidak membuang makanan. Sejak saat itu ia selalu melakukan riset dan mencari informasi tentang perubahan iklim. Ia juga mulai mengubah kebiasaan makan, ia mulai tidak makan daging dan tahun 2015 ia berhenti naik pesawat.

Kelakuannya didukung oleh kedua orang tuanya yang mulai turut hidup ramah lingkungan seperti memasang baterai panel surya atau mulai menanam sayuran sendiri. Untuk transportasi jarak dekat, Greta dan orang tuanya menggunakan sepeda. Ada mobil listrik, namun hanya digunakan seperlunya.

Greta dikenal begitu kritis terhadap negaranya sendiri, padahal Swedia yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling ketat dalam hal emisi karbon. Pemerintah juga Swedia berambisi untuk bisa menjadi negara bebas bahan bakar fosil. Namun Greta melihat Swedia hanya bermanis mulut, karena faktanya emisi karbon di Swedia sempat mengalami peningkatan 3,6 persen di awal tahun 2018.

Protes Greta dengan mogok sekolah kemudian mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Banyak orang yang mulai mendukungnya dan bahkan memberinya dukungan untuk menyuarakan aspirasinya. Momentum datang ketika Greta mendapatkan kesempatan untuk pidato di United Nation Climate Change Conference bulan Desember. Aspirasi Greta mencapai puncaknya ketika tampil di hadapan delegasi pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss akhir Januari yang lalu. Ia membacakan esai berjudul Our House is On Fire.

Suara pedas Greta ditujukan untuk para generasi tua. Ia menuduh para generasi tua telah mengambil masa depannya dan generasi muda lainnya.

“You say you love your children above all else, and yet you are stealing their future in front of their very eyes…”

Greta thunberg

Kemarahan Greta kemudian membuat dirinya terdorong untuk menggalang dukungan secara internasional. Ia kemudian mengajak para siswa dan siswi di berbagai negara untuk ikut dalam mogok sekolah serentak pada 15 Maret mendatang. Berdasarkan cuitan Greta, saat ini tercatat mogok akan dilakukan di 529 tempat di 59 negara. Mereka menyebut diri sebagai The Climate Kids.

Tujuan protes ini adalah untuk mendesak para politis untuk memperhatikan perubahan iklim sebagai krisis yang harus dihadapi bersama lintas bangsa dan negara.

Dari negara-negara tersebut, sayangnya tidak tercantum nama Indonesia. Tapi saya optimis, anak Indonesia akan berani untuk turut dalam gerakan ini.

Tanggapan pun bermunculan terkait gerakan mogok sekolah masif ini. Salah satunya respon dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May. Lewat juru bicaranya Theresa memarahi anak-anak yang ingin membolos untuk terlibat gerakan ini. Dari pada membolos mereka sebaiknya datang ke sekolah dan belajar untuk bisa menjadi ilmuwan yang menyelesaikan isu perubahan iklim. Namun Greta bergeming, ia malah menyarankan untuk para pengecam untuk turut ikut dalam protes.

Tindakan Greta untuk membolos nyatanya memang telah banyak menginspirasi anak muda lainnya.

Alexandra Villasenor saat protes di New York setiap Jumat.
Alexandra Villasenor

Alexandria Villasenor seorang anak 13 tahun misalnya yang sejak akhir Desember yang lalu di New York telah melakukan protes. Ia melakukan protes di luar kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan membawa papan bertuliskan School Strike 4 Climate. Alexandria juga menggalang dukungan untuk ikut dalam gelombang protes 15 Maret.

Terkait membolos sekolah, Alexandria berdalih “mengapa harus sekolah jika kita tidak memiliki masa depan (yang hancur karena perubahan iklim)?”

Pengaruh Greta yang begitu besar meski masih remaja membuat Time memasukkan dirinya dalam daftar salah satu remaja paling berpengaruh di tahun 2018 (Time’s 25 Most Influential Teens of 2018).

Menurut saya Greta adalah seorang remaja yang berani untuk memperhatikan isu di luar lingkup kehidupannya sendiri. Ia memperhatikan keberlangsungan alam untuk banyak orang. Bukan hanya untuk rekan-rekan remaja saja, tetapi juga untuk seluruh kalangan. Sebab perubahan iklim akan memiliki dampak secara global dan masif.

Greta pada hari perempuan sedunia 8 Maret ini, rasanya pantas untuk saya pilih. Sebagai contoh inspirasi dan penyemangat bagi kita para aktivis lingkungan dan pemuda.

We have to understand the emergency of the situation. Our leadership has failed us. Young people must hold older generations accountable for the mess they have created. We need to get angry, and transform that anger into action.

Greta Thunberg

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.