Ramah Lingkungan Bukan Sekadar Tentang Kertas Atau Plastik

03/02/2019

Ketika tren dunia menunjukkan perhatian untuk tidak lagi menggunakan produk plastik, produk berbasis kertas mendapatkan sorotan. Konsumen dan merek mengira kertas adalah produk pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan. Padahal sebenarnya kertas pun tidak lebih ramah lingkungan dengan plastik.

Ini yang kemudian menjadi hal yang dilematis sehingga menarik untuk diperbincangkan.

Mari kita perhatikan produk berbasis kertas. Kertas sangat membutuhkan air dalam proses produksinya. Kertas juga membutuhkan penebangan pohon yang jelas tidak ramah lingkungan. Kemudian kertas juga membutuhkan waktu yang lama untuk diurai karena kertas saat ini memiliki serat yang lebih padat dari pada kertas di masa lampau.

Paper Cup Photo by Crystal Shaw

Selain itu, proses degradasi produk seperti kertas membutuhkan sirkulasi udara dan kelembaban yang tepat. Masalahnya kebanyakan pembuangan sampah akhir di berbagai tempat sangat tidak memberikan ruang untuk sampah-sampah bisa terurai. Itu sebabnya memilih kertas sebagai solusi plastik bisa jadi bukan hal yang tepat. Apalagi jika itu hanya terbatas pada penggunaan sedotan.

Antara kertas atau plastik
Infografis : Washington Post

Sementara ada sebuah artikel menarik dari Corinne Purtill di Quartz yang memantik pertanyaan mendasar pada benak kita. Perdebatan antara sedotan plastik dan kertas sebenarnya sama-sama tidak ada yang menguntungkan untuk lingkungan. Ia kemudian membuat kita bertanya lagi tentang hal mendasar dari cara kita berkonsumsi. Pertanyaan itu adalah "seberapa perlu kah kita menggunakan sedotan?"

Pertanyaan tersebut memang terdengar sederhana, namun begitu mendasar. Apakah benar kita membutuhkan sedotan untuk mengonsumsi minuman kita?

Straw Photo by Toa Heftiba

Minuman apa yang kira-kira perlu menggunakan sedotan? Minuman hangat dengan gelas yang rendah tentu saja tidak cocok diminum menggunakan sedotan, karena akan terlalu panjang sedotannya. Bagaimana dengan minuman dingin dalam gelas tinggi?

Tahun lalu salah satu restoran waralaba terbesar di dunia, McDonald's mengumumkan untuk tidak lagi menggunakan sedotan plastik dan akan menggantinya dengan sedotan kertas.

Masalahnya, sebagaimana kita tahu, produk berbasis kertas tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sedotan plastik. Sementara produk lain seperti stainless atau sedotan kaca tidak mampu mengalahkan sedotan plastik dan sedotan kertas dari segi efisiensi harga.

Ini yang menjadi bahan pikiran saya. Saya kembali bertanya, apakah kita benar-benar membutuhkan sedotan?

Apakah untuk meminum segelas Coca-Cola dengan gelas besar tanpa sedotan akan mengurangi kenikmatannya? Apakah ketika saya meminum segelas es teh di warung, saya membutuhkan sedotan? Apakah ketika Chatime menyajikan minumannya dengan gelas terbuka, akan membuat rasa minumannya berubah?

Semua pikiran ini saya coba imajinasikan dengan momen ketika saya minum produk-produk di atas di tempat beli (bukan dibawa pulang). Memang, pertimbangan akan berubah lagi ketika kita memutuskan untuk mengonsumsi produk tersebut dengan dibawa pulang.

Sayangnya, pertanyaan apakah harus menggunakan sedotan, tetap terjawab tidak.

Bayangkan saya membawa pulang segelas Coca-Cola dari McDonald's dengan kemasan gelas kertas dengan tutup plastik tanpa sedotan. Saya akan tetap bisa menikmati minuman dengan membuka penutupnya. Persoalan apakah tutup gelasnya menggunakan tutup plastik tentu adalah persoalan lain. Tapi tentang sedotan, jelas menggunakan sedotan bukan suatu kewajiban dalam perspektif saya.

Mungkin, bagi sebagian orang, meminum minuman tanpa sedotan bisa membuat riasan luntur. Atau meminum minuman langsung dari gelasnya bisa membuat jejak gincu menempel pada gelas. Perspektif ini bisa jadi menjadi alasan mengapa sedotan masih diperlukan. Sejujurnya saya tidak begitu paham, karena gambaran di atas masih sebatas imajinasi saya dari perspektif perempuan.

Lalu kegelisahan inilah kemudian saya berkesimpulan bahwa bisa jadi sedotan sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.

Keterlibatan Pihak Swasta Untuk Keberlangsungan Lingkungan

Berikutnya adalah bagaimana perusahaan seharusnya mendukung upaya pelestarian lingkungan lewat produk-produk mereka. Perlu diketahui 8 dari 10 konsumen berharap agar para perusahaan harus memiliki program untuk meningkatkan kualitas lingkungan.

Hasil survey ini bisa menjadi peluang bagi merek untuk turut berkontribusi dan menarik perhatiakn. Jangan sampai konsumen malah meninggalkan brand hanya karena sebuah brang menolak untuk peduli pada lingkungan.

Nielsen kemudian dalam artikelnya tentang kertas melawan plastik menjelaskan bahwa memang upaya untuk menjadi merek yang ramah lingkungan bukan hal yang mudah. Karena perusahaan harus bisa mengambil langkah kebijakan ramah lingkungan berkelanjutan secara menyeluruh tidak setengah-setengah.

The Plastic Straw Dilemma.

This is not a positive video.It's about a trait that all humans have, including me. I'm sure many won't agree with me, and that's fine. But I hope we keep the conversation civil. These are just my honest thoughts. INSTAGRAM: @NasDailyGROUP: Nas Daily Global

โพสต์โดย Nas Daily เมื่อ วันพฤหัสบดีที่ 20 ธันวาคม 2018

Totalitas inilah yang sebenarnya juga disebut-sebut oleh Nas Daily sebagai hal utama yang harus diatasi oleh McDonald's ketika memutuskan untuk tidak lagi menggunakan sedotan plastik. Karena mereka harus juga memikirkan bagaimana desain kemasan ramah lingkungan yang konsisten. Alias tidak hanya berusaha mengambil simpati secara selektif.

Misal dengan mengatakan tidak pada sedotan plastik, McDonald's harus juga tidak menggunakan tutup gelas menggunakan plastik.

Upaya yang dilakukan oleh McDonald's tentu saja adalah sebuah langkah parsial yang disebut oleh Nielsen sebagai kebijakan yang hanya mengarah ke aksi mendukung ramah lingkungan berkelanjutan dan bukan benar-benar melakukan tindakan ramah lingkungan.

Namun, meski masih parsial inisiatif proaktif seperti McDonald's bisa saja dinilai positif karena tetap mengesankan bahwa brand memiliki perhatian pada lingkungan.

Memang, untuk menjadi sebuah brand yang pro pelestarian alam membutuhkan upaya yang begitu besar. Belum lagi, kebijakan lingkungan berkelanjutan masih harus berhadapan dengan kebijakan-kebijakan daerah yang belum sepenuhnya cocok dengan niat brand untuk ramah lingkungan. Sebab tidak semua daerah memiliki infrastruktur ramah lingkungan yang efisien, seperti tempat pengumpulan dan daur ulang sampah plastik. Apalagi soal perundang-undangan yang mungkin masih memberi ruang pada produk-produk plastik.

Akhirnya kepedulian kita pada lingkungan memang harus dilakukan secara menyeluruh dan bersama-sama. Tidak hanya empati parsial seperti yang disebut oleh Nas Daily, ataupun hanya berusaha menggaet simpati dengan hanya mengarahkan kebijakan ke aksi mendukung keberlanjutan lingkungan.

Saya sendiri pun masih harus belajar untuk konsisten dan berani untuk totalitas dalam tidak melibatkan produk-produk yang berbahaya untuk lingkungan.

Pada akhirnya memang saya tidak bisa menyarankan apakah kita harus memilih kertas atau plastik. Tapi satu hal yang bisa saya sarankan adalah, mari kita pikirkan solusi sampah ini secara kolektif dan masif.

Ini adalah hal yang sulit, tetapi saya yakin jika berbagai pihak (masyarakat, swasta dan pemerintahan) memiliki impian yang sama, memiliki perhatian yang sama, bumi akan bisa terselamatkan.

Bagaimana menurutmu? Adakah alternatif terbaik selain plastik atau kertas?

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.