Pernahkah kita, saat sedang makan memutuskan berhenti makan karena merasa kenyang. Kemudian kita membiarkan makanan tersebut terbuang begitu saja? Mulai sekarang kamu harus mengubah kebiasaan itu.

Saya dahulu seperti itu. Tapi sejak beberapa tahun terakhir saya tidak lagi melakukannya karena mengetahui betapa berharganya makanan. Sehingga sejak saat itu saya bertekad untuk tidak lagi berkontribusi pada food waste atau membuang-buang makanan.

Bicara soal food waste beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk bergabung menjadi relawan penyelamat makanan (food rescuer) bersama kawan-kawan dari Garda Pangan Surabaya. Di kesempatan tersebut saya banyak belajar tentang apa itu food waste dan bagaimana melakukan penanganan terhadap makanan yang berlebih.

Eating by Annie Spratt via unsplash

Di Garda Pangan, pola pikir saya tentang food waste ternyata dikoreksi terutama tentang penyebutan istilah. Menurut mas Dedhy Barotho salah satu pendiri dari Garda Pangan Surabaya yang saat itu menyambut saya, menjelaskan bahwa Garda Pangan hanya menyelamatkan makanan berlebih dan bukan makanan sisa. Apa bedanya?

Makanan berlebih adalah makanan yang masih layak untuk dimakan namun karena alasan-alasan tertentu harus dibuang. Sementara makanan sisa adalah makanan yang sudah dikonsumsi namun terbuang sia-sia.

Memahami perbedaan antara kedua hal ini penting karena akan membuat kita bisa memahami letak di mana sebenarnya masalah serius dari food waste.

Seberapa serius masalah food waste?

Berdasarkan penjelasan FAO (Food and Agricultural Organization) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), food waste juga terkait dengan food loss (makanan yang hilang).

Ini selaras dengan penjelasan Garda Pangan, saya menemukan pengertian bahwa makanan yang hilang atau terbuang bisa terjadi disepanjang rantai suplai. Berawal dari proses produksinya hingga ke muara konsumsi yakni di tingkat rumah tangga. Hilangnya makanan tersebut bisa terjadi karena masalah pemanenan, penyimpanan, pengemasan, transportasi, mekanisme pasar dan harga hingga masalah perundang-undangan.

Ilustrasi yang paling mudah adalah seperti ini.

Ada sebuah perkebunan pisang seluas 10 hektar. Pisang-pisang tersebut kemudian dipanen dan mampu menghasilkan pisang sebanyak 10 ton. Dari perkebunan kemudian pisang-pisang tersebut dibawa menuju gudang untuk kemudian disortir dan dikemas. Dari proses sortir ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi jika kebun ingin bisa diterima oleh pasar. Seperti panjang pisang, warna pisang, dsb. Dari kriteria ini ternyata ada 2 ton pisang yang tidak memenuhi syarat.

Sisa 8 ton kemudian dikemas dan dikirim menuju distributor. Pisang yang berada di distributor kemudian disalurkan kepada swalayan-swalayan. Swalayan ternyata menyortir kembali pisang yang dikirim oleh distributor karena tidak semua produk dari distributor masih layak jual.

Katakanlah swalayan-swalayan mampu memajang sebanyak 7 ton pisang. Pisang-pisang di swalayan ini umumnya dijual sejak masih belum matang, hingga setelah beberapa hari pisang akan lebih matang dan lebih menarik secara tampilan. Dari 7 ton tersebut bisa terjual sebanyak 4 ton, sementara 3 ton pisang harus tersingkir dari swalayan karena telah melewati masa pajang meskipun masih layak dikonsumsi.

Lalu, mari alihkan perhatian pada pisang yang sudah dibeli oleh konsumen. Konsumen biasanya membeli beberapa gram atau kilo pisang. Jika konsumen punya kebiasaan membuang makanan, pisang yang telah dibeli tersebut kemungkinan besar akan membusuk dan tidak terkonsumsi.

Ilustrasi di atas saya buat untuk menjelaskan bagaimana makanan bisa dengan mudah terbuang dan tidak terkonsumsi dengan tepat. Mulai dari kriteria permintaan standar pasar, usia pajang, hingga kebiasaan buruk para konsumen.

Menariknya, ilustrasi itu banyak terjadi di negara-negara maju yang menurut data FAO, membuang makanan sebanyak 222 juta ton setiap tahun. Angka ini dinilai hampir setara dengan jumlah nilai produksi pangan di negara sub-sahara afrika yang mencapai 230 juta ton.

Saya kemudian mencari data lebih detail. Bagaimana dengan Indonesia, Indonesia menurut data dari Economist Intelligence Unit and the Barilla Center for Food & Nutrition Foundation yang melansir Food Sustainability Index (FSI) menempati tempat kedua di dunia perihal perkapita membuang makanan di tahun 2016. Angkanya mencapai 300 kg (kilogram) per orang per tahun. Sementara di peringkat pertama ditempati oleh Saudi Arabia yang mencapai 427 kg.

Infografis Food Loss and Food Waste by The Economist

Sedangkan dalam FSI tahun 2018, dilaporkan pula bahwa Perancis kembali menjadi negara peringkat pertama yang mampu menerapkan upaya-upaya menekan angka food waste. Di peringkat kedua ditempati oleh Belanda kemudian Kanada di peringkat ketiga.

Angka yang lebih serius dilansir oleh Boston Consulting Group (BCG) di tahun 2018. BCG memprediksi pada tahun 2030 skala makanan terbuang akan terus meningkat mencapai 2,1 milyar ton atau setara dengan US$ 1,5 Triliun secara global. Padahal dalam Sustaniable Development Goals (SDGs) PBB, menargetkan akan bisa mengurangi sepertiga dari total nilai makanan terbuang di tahun yang sama.

Goal ke 12 SDGs

“Ensure sustainable consumption and production patterns” includes amongst its objectives to “halve per capita global food waste at the retail and consumer level, and reduce food losses along production and supply chains by 2030”

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)

Garda Pangan menjadi salah satu solusi masalah food waste

Angka yang fantastis tentu saja membuat kita berpikir kembali, seharusnya masalah kelaparan di dunia ini memang bisa teratasi jika distribusi pangan merat. Ok, cukup dengan data-data itu. Sebelum kepala makin pecah memikirkan masalah food waste yang begitu serius, mari kita kembali ke Garda Pangan.

Menurut saya, Garda Pangan adalah salah satu organisasi yang bisa menjadi solusi dalam lingkup kecil regional untuk masalah makanan terbuang ini. Sebab Garda Pangan berusaha untuk “menyelamatkan” atau rescue dalam bahasa mereka, makanan-makanan berlebih untuk kemudian disalurkan pada penerima manfaat atau beneficiaries. Para penerima manfaat ini pada umumnya adalah kalangan pra-sejahtera.

Saya bersama mas Dedhy Barotho di basecamp Garda Pangan
(Foto: Mbak-mbak dari Majalah Koki yang juga sempat datang meliput)

Saat saya ikut dalam agenda Food Rescue pada 9 Januari yang lalu, saya diajak untuk mengambil makanan berlebih dari salah satu bakery elit di kota Surabaya. Saya melihat roti-roti dan keik yang sudah tidak dipajang itu memang masih sangat layak untuk dikonsumsi. Saya saja merasa tergiur untuk mencicipi.

Dalam menerima makanan, Garda Pangan juga menerapkan standar operasi yang cukup ketat. Mereka harus mengenakan sarung tangan plastik agar makanan tidak tercemar. Kemudian mereka juga harus memastikan makanan yang diterima masih layak untuk dikonsumsi. Selain itu pihak penyalur makanan juga akan mendapatkan bukti serah terima makanan.

Roti-roti dan keik yang terkumpul kemudian disalurkan ke sebuah panti asuhan di daerah Wonokitri, Wonokromo Surabaya.

Ada beberapa hal menarik dari pengalaman rescue ini. Pertama, saya mendapati ternyata perusahaan yang memiliki makanan melewati Shelf Life (usia pajang) umumnya tidak ingin nama mereknya diekspos. Alasannya, bisa jadi dengan konsumen mengetahui ada makanan yang ‘terbuang’ konsumen tidak lagi percaya bahwa merek tersebut adalah merek yang laris.

Kedua, merek yang mau menyalurkan makanan berlebihnya pada Garda Pangan alih-alih mendapat kerugian, mereka mendapatkan keuntungan dari peran Garda Pangan dari sisi akuntabilitas.

Maksudnya? Maksudnya adalah data-data makanan berlebih yang disalurkan kepada Garda Pangan ternyata bisa digunakan oleh perusahaan untuk lebih bisa merencanakan produksinya. Bisa mengetahui tren dan juga mengatur stok dengan lebih baik. Ini terbukti dengan jumlah makanan berlebih yang diterima oleh Garda Pangan dari sebuah bakery semakin hari semakin menurun.

Dua hal ini menarik, karena ternyata Garda Pangan juga melihat peluang dari perilaku ini. Mereka memandang bahwa Garda Pangan akan memiliki model bisnis yang cukup besar dalam hal food waste management perusahaan-perusahaan di Surabaya. Garda pangan menjelaskan pada saya bahwa sebagai Social Enterprise, Garda Pangan telah menentukan target pasar dari layanan Sustainable And Responsible Food Waste Management yang mereka berikan adalah untuk industri hospitality dan industri makanan.

Sehingga, Garda Pangan menurut saya tidak terjebak dengan konsep bank makanan (food bank) yang populer di Amerika Utara dan Eropa tetapi bisa tampil menjadi sebuah perusahaan sosial yang memiliki model bisnis yang cukup berkelanjutan. Sebab kebanyakan konsep bank makanan yang telah ada di luar negeri pada umumnya adalah bergantung pada donasi-donasi.

Saya pun sempat bertanya pada mbak Eva dari Garda Pangan mengenai keberlangsungan Garda Pangan yang bisa jadi terancam jika seluruh organisasi maupun perusahaan telah mampu mengatur masalah sampah makanannya. Ia mengatakan bahwa Garda Pangan bisa saja membubarkan diri jika memang hal tersebut tercapai. Namun food waste bisa jadi tetap akan selalu ada karena hal ini adalah sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai necessary evil. Hal yang menjadi perhatian kemudian adalah bagaimana melakukan manajemen terhadap masalah ini sehingga tidak mengakibatkan masalah yang lebih serius.


Pengalaman saya bergabung sejenak dengan Garda Pangan rasanya menciptakan sebuah perspektif baru. Bahwa ternyata masalah food waste memang begitu serius. Namun solusi yang ada pun sebenarnya tidak terlalu rumit.

Nah pertanyaannya kemudian, apakah kita sebagai konsumen mau untuk lebih kritis pada pemerintah dan perusahaan, sekaligus mau untuk mengubah kebiasaan. Bagi kita pribadi, mungkin semuanya bisa berawal dari sepiring makanan yang setiap hari kita makan. Pastikan kita mengonsumsinya sesuai kebutuhan dan tidak membuang-buang makanan.

Berlatih untuk berempati, berlatih untuk menghargai pemberian bumi. Ayo lakukan perubahan demi keberlangsungan kehidupan bersama.

Food Rescue 9 Januari 2019
(Foto: Fuad / Garda Pangan)

Terima kasih untuk rekan-rekan Food Rescue Edisi 9 Januari 2019. Fuad, Hilma, Lia, Mita, dan Hilmanov.

Untuk yang ingin menjadi relawan Food Rescue bisa mendaftarkan diri melalui halaman relawan. Ingat! Kamu harus sigap karena menjadi relawan Garda Pangan harus berebut sebelum kuota penuh.

Sekilas tentang Garda Pangan

Garda Pangan adalah perusahaan sosial (sosial enterprise) yang berdiri sejak September 2016. Perusahaan ini didirikan oleh Dedhy Baroto bersama rekannya Eva Bachtiar di Surabaya untuk mengkampanyekan manajemen food waste. Garda Pangan sebagai sebuah perusahaan rintisan juga mendapat binaan dari Gerakan 1000 Startup dan hingga Desember 2018 telah menyelamatkan 52.685 porsi atau setara 8 ton makanan. Selengkapnya bisa dibaca di situs resmi Garda Pangan.

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan hasil wawancara saya dengan mbak Eva dari Garda Pangan Surabaya. Baca wawancara selengkapnya di Transkrip Wawancara Garda Pangan Surabaya

Baca artikel saya lainnya seputar komunitas lingkungan dan sosial lainnya hanya di Baranimus.

Referensi

FAO – Global Food Losses And Food Waste 2011
The Economist – Why Wasting Food is Bad for the Planet?
Food Sustainability Index – Whitepaper 2018

Video terkait Food Waste

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.