Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang peran makhluk kecil yang sering kali kita abaikan. Mereka begitu berarti untuk kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Makhluk itu adalah serangga yang kerap kali kita caci tiap kali bertemu.

Tulisan ini adalah kisah tentang bagaimana saya memaknai ulang peran kehidupan para serangga di era sekarang.

Dalam artikel berjudul The Insect Apocalypse is Here yang ditulis oleh Brooke Jarvis itu dijelaskan bahwa telah terjadi penurunan jumlah populasi serangga yang masif. Penurunan populasi ini dikaji lebih lanjut dan menghasilkan hipotesa bahwa hilangnya populasi serangga secara masif akan memberikan kerugian yang sangat besar pada umat manusia.

Beberapa data menarik yang saya dapatkan dari artikel itu salah satunya adalah ternyata proses penyerbukan yang dilakukan oleh serangga jika dihitung menggunakan uang biayanya sangat tinggi.

Di Cina, penurunan jumlah serangga mengakibatkan para petani harus mempekerjakan manusia untuk melakukan proses penyerbukan secara manual. Biayanya bisa mencapai US$19 per pekerja per hari dengan satu orang bisa menyerbuki 5 sampai sepuluh pohon. Sementara para peneliti memperkirakan total nilai ekonomi dari aktifitas penyerbukan oleh serangga bisa senilai US500 mliyar setiap tahunnya.

Angka itu tentu saja mengejutkan bahwa ternyata apa yang diberikan alam pada manusia memang memiliki nilai yang sangat tinggi, namun kita menerimanya dengan cuma-cuma. Karena diterima dengan cuma-cuma kita akhirnya cenderung untuk tidak menilainya dengan berharga.

Menyadari ini, saya kemudian berpikir, “bagaimana dengan serangga yang menjadi hama?” Memang ada pula serangga yang menjadi hama namun setelah membaca artikel tersebut saya menganggap bahkan sebagai hama sekalipun mereka bekerja sesuai dengan peran alam. Karena kenyataannya sering kali ketidakseimbangan antara hama dengan predator kerap terjadi karena peran manusia.

Pengalaman Bersama Serangga

Berbicara tentang serangga, saya juga teringat bagaimana dahulu saat saya masih kecil sering bepergian keluar kota dengan orang tua di malam hari. Sering kali ketika sampai di kota tujuan, kami melihat banyak serangga-serangga kecil malang yang harus mati tertabrak kendaraan kami.

Kini, saat saya sudah mampu mengendarai mobil sendiri, saya sangat jarang melihat ada serangga dalam jumlah banyak yang tertabrak kendaraan. Bukan berarti saya ingin bisa menabrak serangga lebih banyak, tetapi ini adalah sebuah pertanda kalau serangga-serangga itu sepertinya menghilang atau jumlahnya menurun. Karena tidak mungkin mereka memilih tidak lagi tertarik dengan cahaya setelah melihat teman-temannya terbunuh di jalanan.

Hal yang sama juga saya sadari ketika saya melakukan pendakian menuju Gunung Semeru. Saya saat itu mengantisipasi diri agar tidak banyak berurusan dengan serangga, tawon atau serangga-serangga lain yang ‘agak’ berbahaya. Namun yang saya dapati adalah hamparan alam yang luas tanpa gangguan serangga. Kemana mereka?

Bisa dibilang, saya mungkin cukup beruntung masih dapat hidup menyaksikan beberapa serangga eksotis seraca langsung dalam keadaan hidup. Namun ketika saya menyaksikan bagaimana anak-anak kota hidup di tengah-tengah keramaian, mereka mungkin akan begitu asing melihat serangga. Parahnya lagi, kemungkinan besar mereka diajarkan oleh orang tuanya bahwa serangga adalah makhluk yang selalu menggangu. Tentu saja nyamuk adalah duta besar untuk stigma ini.

Memang nyamuk adalah serangga yang berbahaya bagi manusia. Tetapi nyamuk hanya satu dari ribuan jenis serangga lain yang berperan dalam rantai daur alam. Serangga yang mengolah kotoran atau membusukkan makanan misalnya, mereka sangat berperan untuk menjaga agar kotoran dan sampah itu tidak menggunung. Serangga-serangga itu bisa berperan lebih cepat dibandingkan mikroorganisme.

Kembali lagi, saya membayangkan bagaimana hilangnya serangga ini akhirnya dianggap sebagai sebuah kelumrahan. Sebuah hal yang biasa bahkan untuk anak-anak dan generasi mendatang. Ilmuwan menyebut hal ini sebagai shifting baseline syndrome. Sindrom yang dialami manusia lintas generasi ketika pengalaman generasi sebelumnya tidak dirasakan oleh generasi berikutnya. Dalam hal ini adalah pengalaman berinteraksi dengan para serangga.

The Eremocine

Menanggapi mulai hilangnya para serangga ini, seorang peneliti semut, Edward Osborne Wilson kemudian menyatakan the Eremocine, the age of loneliness. Sebuah zaman yang sepi. Sepi karena manusia tidak akan lagi hidup dengan serangga-serangga itu yang menakjubkan itu.

Hal ini tentu saja berakar dari aktifitas penelitiannya yang melibatkan semut. Wilson menyebut para semut adalah The little things that run the natural world. Serangga kecil yang mengatur alam.

Terancamnya serangga, bisa jadi adalah sebuah kiamat bagi kehidupan bumi. Namun kesadaran kita tentang hal ini secara kolektif tidak akan berubah jika para lembaga konservasi tidak mengubah perhatiannya pada keberlangsungan serangga. Sebab selama ini lembaga-lembaga itu sering kali lebih mengkampanyekan keselamatan hewan-hewan besar eksotis yang lebih menarik bagi masyarakat.

Padahal, setiap kali kita bepergian bisa jadi para seranggalah yang menjadi teman perjalan meski kita tidak menyadarinya. Mereka adalah penjaga alam yang tidak pernah dikenal.

Diam-diam bekerja, diam-diam menggigit.
Selalu begitu.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.