Suatu ketika saya berbincang dengan seorang teman yang hampir bulannya melakukan perjalanan atau traveling ke tempat-tempat baru. Dalam daftar miliknya ada puluhan tempat baik di Indonesia maupun luar negeri yang sudah dan akan menjadi tujuan jalan-jalan untuknya.

Saya yang melihat daftar tersebut kemudian bertanya, “kenapa sih senang sekali traveling?”

Teman saya itu menjawab dengan sederhana, “jalan-jalan membuatku mengenal banyak tempat baru dan aku bisa lebih banyak memotret di sana.”

Jawabannya tentu saja tidak memuaskan saya, namun saya memilih untuk tidak menyanggahnya. Kini saya kembali memikirkan pertanyaan yang sama. Mengapa kita perlu jalan-jalan atau traveling?

Alasan tidak traveling

Secara hitung-hitungan ekonomi, aktifitas jalan-jalan adalah aktifitas yang sama sekali tidak profit atau keuntungan. Sebab sifat dari jalan-jalan adalah hiburan atau dengan kata lain kita mengeluarkan uang untuk tidak kembali menerima uang sebagai timbal balik.

Sementara dari segi waktu, aktifitas jalan-jalan juga sering kali menyita banyak sekali waktu. Waktu untuk jalan-jalan sering kali habis di perjalanan sementara di destinasi kita hanya menghabiskan waktu yang sangat singkat.

Belum lagi soal tenaga, sebagai aktifitas yang menuntut kesiapan fisik, jalan-jalan sangat menguras tenaga baik mental maupun fisik. Tidak jarang kita malah jatuh sakit setelah jalan-jalan akibat kelelahan.

Dari beberapa pertimbangan itu, sekilas memang mengesankan bahwa jalan-jalan atau traveling adalah hal yang tidak menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Itu pun jika memang ada hasil yang kita dapat dari jalan-jalan.

Tapi tunggu, sebelum kalian mencak-mencak menghakimi saya yang memandang aktifitas jalan-jalan adalah aktifitas tidak menguntungkan. Saya sudah berusaha untuk menemukan justifikasi mengapa traveling memang memiliki manfaat.

Manfaat traveling menurut sains

Dari hasil penelusuran saya di lembah maya, beberapa argumentasi ilmiah menjelaskan bahwa ternyata perjalanan akan mampu memberikan keuntungan secara mental. Itu artinya keuntungan jalan-jalan memang tidak kasat mata namun dapat dirasakan manfaatnya, seperti sebuah ilmu.

Tidak heran jika kemudian ada adagium yang menyebutkan bahwa travel “broadens the mind” yang jalan-jalan mampu memperluas wawasan. Wawasan seperti apa yang dimaksud?

Di The Guardian, Jonah Lehrer menjabarkan bahwa wawasan yang dimaksud adalah tentang bagaimana seseorang akan lebih mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda jika mereka pernah melakukan perjalanan. Dalam artikel tersebut, sebuah penelitian mengungkap kalau ternyata orang yang pernah keluar dari negara tempat lahirnya akan bisa lebih banyak menjawab tantangan yang melibatkan kreatifitas.

Sementara NASA, dalam sebuah artikel menjelaskan bahwa traveling adalah prilaku yang manusiawi yang perlu untuk terus dilatih dan dikembangkan. Dalam konteks yang ekstrim, tentu saja manusia akan terus berusaha melakukan perjalanan menembus batas seperti ke luar angkasa demi memperluas wawasan.

Wawasan yang luas rupanya menjadi hal yang penting karena itu mencegah seseorang untuk terjebak dalam kejumudan fungsi (functional fixedness). Contohnya seperti bagaimana kebanyakan orang melihat lilin hanya sebatas sebagai alat penerangan. Padahal, lilin juga dapat digunakan untuk pelumas sederhana misalnya.

Membuat kita lebih bertanggung jawab

Orang yang kreatif akan cenderung fokus pada bagaimana menyelesaikan masalah. Tindakannya akan lebih banyak dihabiskan untuk bagaimana mencari inspirasi-inspirasi baru untuk menjawab tantangan yang dihadapinya. Termasuk salah satunya adalah dengan mencari inspirasi lewat traveling. Kreatifitas tidak akan bisa lahir jika seseorang hanya terkurung dalam sebuah tempat tanpa mampu mengenal atau mengetahui apa yang ada di luar lingkaran tersebut.

Namun dengan semakin mudahnya orang bepergian kesana kemari, pertanyaan penting yang harus dipikirkan adalah tentang apakah traveling yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat. Sehingga kita menjadi lebih hati-hati dalam menentukan destinasi tempat tujuan.

Akhirnya, bagi saya, traveling bukan sekadar tentang destinasi yang indah, foto-foto instagrammable, ataupun mampu menjelajah ruang. Tetapi juga tentang bagaimana sebuah perjalanan mampu untuk meningkatkan wawasan dan kreatifitas. Sehingga kita bisa lebih bertanggung jawab tidak hanya pada diri kita sendiri tetapi juga pada lingkungan dan masyarakat.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.