Beberapa waktu lalu saat saya sedang mencari inspirasi konten untuk Pinus Anima, saya menemukan sebuah kata menarik. Kata itu adalah Shinrin Yoku 森林浴 (bahasa Jepang), shinrin berarti hutan, dan yoku adalah mandi, mandi hutan.

Kata ini menarik ketika direnungkan. Bagaimana mungkin kita bisa mandi hutan? Seperti apa itu mandi hutan? Saya pun terdorong untuk mencari lebih jauh.

Dari pencarian yang saya temukan lewat Google, Shinrin Yoku ternyata adalah tentang sebuah terapi alami yang melibatkan hutan. Dalam metode ini, setiap orang akan diajak untuk mendalami hutan secara alamiah tanpa bantuan apapun. Mereka yang berada di hutan akan melakukan relaksasi dan tidak melakukan kegiatan, hanya diam dan menyaksikan hutan.

Metode ini dipercaya mampu untuk memberikan terapi utamanya untuk kesehatan mental. Sehingga di negeri asalnya, Jepang metode ini diteliti untuk dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi fasilitas kesehatan.

Florence Williams dalam artikelnya di Outsideonline mengungkap pada 2004 hingga 2012 pemerintah Jepang rela mengeluarkan dana US$4 juta untuk meneliti Shinrin Yoku. Penelitian dilakukan untuk menemukan manfaat-manfaat dari mandi hutan, termasuk untuk mengembangkan puluhan hutan yang khusus didedikasikan sebagai hutan Shinrin Yoku. Hutan-hutan itu diberi nama Forest Theraphy.

Pohon-pohon tertentu yang ada di hutan ternyata memang mampu untuk mengeluarkan semacam minyak antimikroba bernama phytoncided. Minyak ini melindungi pohon dari kuman-kuman berbahaya sehingga kesehatan pohon tetap terjaga.

Ingat sebuah iklan sabun yang mengklaim mengandung senyawa dari pohon? Sepertinya senyawa itu yang dimaksud.

Menariknya, minyak ini juga mampu memberikan efek positif pada manusia seperti memperbaiki mood, meningkatkan sistem imun, menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres akibat rasa khawatir berlebih atau kebingungan. Selain itu juga memperbaiki tidur dan meningkatkan kreatifitas. Bahkan juga dipercaya mampu melawan kanker dan depresi. Semua manfaat ini diungkap dalam buku Forest Bathing, karya Qing Li, presiden dari Japanese Society for Forest Medicine yang juga saya kutip dari QZ.

Infografis manfaat shinrin yoku

Terlepas dari apakah benar mandi hutan mampu memberikan khasiat-khasiat tersebut. Bagi saya mandi hutan memiliki tempat tersendiri. Karena mandi hutan bisa memberikan suasana menyenangkan bagi saya. Setiap kali saya melakukan mandi hutan, saya merasa tenang dan tidak cemas tentang apapun.

Memang, hidup di perkotaan bukan hal yang mudah untuk bisa melakukan mandi hutan. Sebab tidak banyak hutan kota yang menurut saya layak untuk menjadi lokasi Shinrin Yoku. Namun saya bersyukur berada di Jawa Timur yang banyak ditemukan lokasi-lokasi wisata alam.

Sebut saja Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan masing-masing lokasinya. Lokasi-lokasi berkemah tersebar di taman nasional ini.

Saya sendiri pada bulan Juni yang lalu berhasil mendaki semeru dan berkemah di Kalimati yang sangat dekat dengan hutan pinus. Setiap kali mengingat momen itu saya terasa tenang meski rindu dengan atmosfir hutan yang sunyi.

Lokasi lainnya seperti paralayang di kota Batu, yang memiliki lokasi lembah pinus. Meski tidak seluas Kalimati, lokasi ini cukup mudah diakses dan cukup tenang. Kekurangannya adalah, lokasi ini masih terjangkau oleh sinyal telepon sehingga satu dua kali saya masih terdistraksi dengan ponsel.

Mencari lokasi untuk mandi hutan memang tidak mudah saat ini, apalagi di kota-kota besar. Jakarta misalnya, saya tidak yakin Jakarta memiliki hutan kota yang layak. Kecuali Jakarta ingin membangun semacam Central Park di New York, Amerika Serikat. Pilihan yang mungkin bagi Jakarta adalah Kebun Raya Bogor.

Namun bagi saya, Kebun Raya Bogor memiliki kekurangan dari segi densitas atau kerapatan tanaman. Selain itu, kebun raya yang berada di tengah kota membuat Kebun Raya Bogor sangat terjangkau sinyal telekomunikasi. Akibatnya, para pengunjung tidak dengan tenang menikmati alam, tetapi sibuk berfoto-foto ria.

Peta Shinrin Yoku di Jepang (Foto: Infom.org)

Bila dibandingkan dengan milik Jepang yang sampai saat ini telah memiliki 62 Forest Theraphy, jelas kita tertinggal jauh. Padahal bisa jadi metode Shinrin Yoku tidak hanya bermanfaat untuk kualitas manusia, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan alam hutan.

Rasanya, jika pemerintah punya niatan baik untuk menjaga konservasi hutan, pemerintah juga perlu untuk memikirkan bagaimana menciptakan hutan sebagai lokasi rekreasi kesehatan. Suatu saat mungkin? Semoga saja.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.