Menjual Lagi Makanan Kadaluwarsa Ala The Real Junk Food Project

19/03/2019

Masalah makanan terbuang adalah masalah pelik dalam budaya ekonomi modern yang kini sedang di hadapi manusia. Ketika dahulu Thomas Malthus khawatir bahwa makanan tidak akan mampu mengikuti jumlah pertumbuhan manusia, kini manusia yang harus berhadapan dengan jumlah makanan yang terus meningkat. Masalahnya adalah, distribusi makanan yang tidak merata.

Ini adalah cerita tentang cara masyarakat modern menghadapi surplus pangan.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengikuti kegiatan Garda Pangan untuk mengetahui seperti apa penyelamatan (rescue) makanan. Kegiatan tersebut dilakukan di Surabaya dan melibatkan sebuah produsen roti premium dan panti asuhan sebagai lokasi penyaluran makanan.

Sebenarnya upaya penyelamatan makanan melalui food bank memang sudah saya ketahui sejak lama. Munculnya Garda Pangan di Surabaya tentu hanya masalah waktu. Sementara di tingkat internasional, keberadaan inisiatif bank pangan maupun upaya penyelamatan makanan sudah berjalan sejak lama. Seperti The Real Junk Food Project (TRJFP) yang telah tersebar di berbagai negara seperti Inggris, Israel, Australia dan Amerika Serikat.

Menurut saya Real Junk Food Project merupakan bentuk lain dari sebuah bank pangan. Projek ini bertujuan untuk menyalurkan makanan berlebih dalam bentuk siap saji dan boleh dibayar sesuka hati oleh pelanggannya. Kebanyakan makanan yang disajikan sama seperti pangan yang diselamatkan oleh bank pangan, yakni makanan-makanan berlebih yang datang dari gerai-gerai atau produsen pangan yang sudah lebih dari usia display.

Salah satu orang dibalik projek Real Junk Food Project adalah Adam Smith. Cerita tentang Adam Smith dan kisah sukses Real Junk Food Project ini saya sarikan dari The Guardian, "Real Junk Food Project Revolutionising How We Tackle Food Waste".

Adam Smith merupakan seorang koki, yang memiliki inisiatif untuk memberikan makanan pada semua orang menggunakan makanan berlebih. Gudang miliknya di Leeds, Inggris menumpuk berbagai jenis makanan yang kemudian disajikan pada orang-orang yang datang.

Beberapa makanan itu datang dari brand-brand makanan terkenal seperti kue Marks & Spencer dan cokelat Ferrero Rocher. Selain itu juga berdatangan roti dari berbagai supermarket. Kebanyakan adalah roti gulung, baget, dan croissant. Semuanya adalah makanan yang masih layak untuk dikonsumsi.

"Jika makanan itu tidak diselamatkan, makanan itu pasti akan membusuk di tempat sampah," kata Keith Annal, Manajer Operasional Real Junk Food Project.

Apa yang dilakukan oleh Adam dan timnya merupakan bagian dari pergerakan global untuk mengentaskan masalah makanan berlebih. Menurut Adam, saat ini secara di Inggris sendiri makanan yang dibuang mencapai 15 juta ton dalam satu tahun.

Adam kemudian berusaha membuka Real Junk Food Cafe yang mengolah semua makanan yang diterimanya itu untuk semua orang yang membutuhkan makanan. Kesepakatannya, orang yang makan di tempat itu boleh siapapun tidak hanya orang yang miskin. Orang yang makan di kafe itu pun harus membayar senilai kepantasan makanan yang mereka makan. Bebas tidak ada batasan untuk membayar berapa. Sementara orang yang tidak memiliki uang mereka bisa bekerja menjadi relawan.

Sama seperti Adam, ada pula Duncan Milwain yang ikut terlibat pada projek yang sama. Ia adalah seorang ahli hukum di sebuah firma hukum yang mulanya membantu Adam untuk membangun Real Junk Food Project. Namun lambat laun Duncan rupanya juga tertarik untuk terlibat dalam gerakan ini. Ia kemudian membuka Saltaire Canteen di kota Saltaire.

"Beberapa orang berusaha meyakinkan saya untuk hanya memberi makan orang-orang yang miskin. Tidak memberikan kek untuk orang-orang pinggiran. Tapi ini tentang makanan terbuang, bukan sekadar tentang kemiskinan," ujar Duncan.

Soal makanan untuk orang miskin, Duncan bekerjasama dengan Keith untuk berbagi berkotak-kotak kek dan berkanton-kantong roti dan kentang di Parklands Primary School di Seacroft. Wilayah ini merupakan bagian paling miskin dari kota Leeds dan sekolah ini menjadi sekolah pertama yang bergabung dengan program Real Junk Food Porject yang bernama Fuel for School.

Ide dari projek ini adalah berbagi makanan untuk siapapun. Mereka yang ingin mengambil makanan bisa berdonasi semampunya. Tapi tidak apa-apa bila mereka tidak memiliki uang. Mereka menyebutnya "butik makanan".

"Beberapa orang tua sangat senang dengan adanya program ini. Beberapa keluarga ada yang harus terus menerus berjuang hidup. Mereka mendapatkan akses food bank namun hanya tiga kali dalam satu tahun. Senang rasanya bisa memberikan sedikit makanan ekstra," kata Chris Dyson, kepala guru dari Parklands Primary School.

Masalah makanan rupanya juga memengaruhi perilaku para murid di sekolah. Hal ini disadari oleh Nathan Atkinson kepala sekolah Richmond Hill Primary.

"Perilaku mereka sangat kacau. Kami menyadari sebagian mereka tidak mendapatkan makanan hangat dalam seminggu," kata Nathan.

Hal pertama yang dilakukannya adalah membeli pemanggang di setiap kelas, tapi mereka membutuhkan makanan. Nathan kemudian bertemu Adam secara kebetulan dan menawarkan untuk membuka kafe junk food di sekolah. Nathan menjawab, "tidak, terima kasih. Tapi kamu bisa melakukannya."

Sekolah Richmond Hill Primary saat ini memberikan sarapan setiap hari untuk 650 murid. Mereka memiliki kafe sendiri dan memiliki "butik makanan" seperti yang ada di Parklands Primary School. Dampaknya, ketepatan waktu hadir dan kehadiran meningkat. Selain itu hubungan antara para orang tua dengan sekolah menjadi semakin baik.

Kesuksesan ini kemudian ditingkatkan untuk menguji kemampuan mereka. Pada suatu waktu di musim gugur, Real Junk Food Project memberikan makanan pada 10.000 anak di seluruh Leeds dengan makanan terbuang. "Ini adalah hal sederhana, namun tragis karena kita harus melakukan ini," kata Nathan.

Vegetables Photo by Jordan Madrid
Photo: Jordan Madrid / unsplash.com

Keberhasilan Adam dengan rekan-rekannya kemudian menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Hanya saja Adam sempat tersandung masalah karena dianggap menjual makanan yang telah kadaluwarsa. Meski begitu, minat pada TRJFP semakin membesar. Berbagai negara ingin menerapkan hal yang sama. Adam mendapatkan surel dari Indonesia, Spanyol, Kanada dan berbagai negara lainnya. Bahkan dirinya telah bekerjasama dengan pemerintah Korea Selatan untuk membuka TRJFP di sana.

Mengapa orang-orang tertarik dengan konsep ini?

"Ini bukan hal yang rumit. Ini sangat masuk akal. Projek ini berkelanjutan dan sebuah hal benar yang harus dilakukan. Aku pikir itu alasan mengapa orang terinspirasi. Ini adalah sesuatu yang mereka bisa lakukan. Jika beberapa anak di Leeds bisa melakukannya, mereka juga bisa," jelas Adam.

Menurut Adam, konsumen saat ini sangat terpengaruh dengan media dan supermarket yang mendorong mereka untuk terus membeli. Dengan mengesankan bagaimana makanan-makanan yang ideal dan pantas untuk dikonsumsi. Dampaknya, ada banyak sekali makanan yang harus terbuang akibat tidak sesuai dengan "standar".

Beberapa negara pun saat ini telah menerbitkan peraturan yang mengatur supermarket untuk tidak menghancurkan makanan yang tidak terjual. Prancis misalnya, mereka berhasil membuat peraturan untuk memaksa toko untuk mendonasikan makanan yang tidak terjual.

TRJFP bisa jadi memang terbilang kontroversial, menjual makanan yang tidak terjual dari toko untuk konsumen bahkan makan yang masih layak namun melewati batas waktu kadaluwarsa. Namun apa yang dilakukan Adam dan orang-orang yang terinspirasi TRJFP sadar bahwa ini adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah makanan yang terbuang dan berusaha membangun persepsi yang benar tentang sebuah makanan yang layak konsumsi.

Di Indonesia sendiri, pandangan umum tentang makanan kadaluwarsa masih sangat bergantung pada tanggal yang tertera. Sehingga sering kali makanan harus terbuang hanya karena telah melewati batas waktu. Padahal, hal terpenting dari sebuah makanan adalah bagaimana keadaan fisik makanan, dan kita harus bisa memahami seperti apa makanan yang masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Bukan berdasarkan tanggal yang tertera.

Penjelasan tentang perbedaan antara best before atau baik sebelum maupun expired date atau tanggal kadaluwarsa, di Indonesia masih sangat jarang ditemukan. Tidak adanya sosialisasi yang tepat dan edukasi konsumen yang buruk lewat media membuat masyarakat menganggap makanan bisa dibuang begitu saja.

Tidak heran jika kemudian Indonesia menempati peringkat 24 dari 25 negara di daftar negara pembuang makanan. Indonesia dinilai menjadi negara dengan per kapita pembuang makanan mencapai 300 kilogram. Data ini berdasarkan penelitian The Economist Intelligence Unit tahun 2016.

Jika Indonesia ingin menjadi salah satu negara yang bisa mengentaskan masalah makanan terbuang dan pemerataan gizi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang mengenali kelayakan sebuah pangan. Serta kembali berkampanye melawan kemubaziran.

Bagaimana menurutmu? Apakah Indonesia perlu untuk menerbitkan peraturan yang mengatur tentang makanan berlebih? Yuk diskusi dengan berkomentar di kolom komentar ya.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.