Bumi yang Menghijau dan Tembok Besar Hijau Cina

26/03/2019

Beberapa waktu lalu diperingati hari hutan sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Maret. Setiap tahun hari yang diresmikan sejak 21 Maret 2012 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merayakan dan berusaha meningkatkan kesadaran tentang pentingnya hutan.

Terkait dengan tema itu, kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah kabar yang mengungkap bahwa sebenarnya bumi lebih hijau dalam beberapa dekade terakhir.

Kok bisa? Pertanyaan tentu muncul ketika kita dihadapkan pada banyak sekali kabar menyedihkan tentang kondisi hutan di bumi.

Forest Photo by Lukasz Szmigiel
Foto: Lukasz Szmig / unsplash.com

Kabar mengejutkan itu datang dari otoritas yang cukup kredibel yakni NASA, agensi luar angkasa milik Amerika Serikat. NASA pada bulan Februari yang lalu memublikasikan artikel yang membahas tentang hasil penelitian penginderaan satelit para peneliti Boston University. Dalam jurnal penelitian yang berjudul China and India lead in greening of the world through land-use management itu terungkap bahwa Cina dan India menjadi negara yang maju dalam hal manajemen penghijauan.

Pimpinan penelitian, Chi Chen mengungkapkan bahwa ia dan timnya terkejut karena menemukan bahwa kedua negara menjadi yang terdepan dalam penghijauan dengan angka sebesar sepertiga dari total terjadinya penghijauan di seluruh bumi.

"Itu hasil yang mengejutkan, mengingat begitu umumnya degradasi lahan akibat eksploitasi berlebihan di negara-negara dengan populasi berlebih," ujar Chen.

Citra satelit bumi menghijau
Grafik: NASA
Grafik negara menghijau 2017
Grafik: NASA

NASA kemudian menunjukkan data perubahan kondisi bumi dalam dua dekade terakhir, mulai dari tahun 2000 hingga 2017 yang cenderung menghijau di daerah India dan Cina.

Berdasarkan data penelitian, "penghijauan" tersebut ternyata berasal dari perkebunan. Di lahan-lahan tersebut banyak di tanam sayur-sayuran dan buah-buahan.

Namun menurut para peneliti kabar ini bisa saja tidak berlanjut jika beberapa hal terjadi. Seperti masifnya eksploitasi air tanah di India untuk perkebunan. Para peneliti juga menekankan bahwa menghijaunya dunia bukan berarti deforestasi yang terjadi di hutan-hutan tropis bisa diterima. Hutan tropis di Brazil dan Indonesia disebut sebagai hutan yang sangat penting untuk keberlangsungan bumi.

Menerima kabar di atas, sekilas kita akan merasa mendapat angin segar, karena siapa yang menyangka kalau bumi menghijau. Hanya saja kita tentu perlu kritis sesuai dengan kajian tersebut, bahwa hijaunya bumi berdasarkan studi tersebut belum mampu menggantikan peran hutan tropis yang sangat berharga.

Tembok Hijau Cina

Jika penelitian tersebut menyebutkan bahwa meningkatnya penghijauan di Cina, lalu bagaimana dengan program Tembok Besar Hijau Cina yang pernah digadang-gadang itu? Bukan, bukan tembok besar Cina yang terkenal itu. Tapi Tembok Besar Hijau Cina.

Saya kemudian mencari data tentang program penghijauan oleh Cina tersebut. Dalam sebuah artikel di National Geographic, ditulis bahwa Cina pada tahun 1978 telah mencanangkan program untuk melawan meluasnya wilayah Gurun Gobi. Program tersebut dinamakan Great Green Wall atau Tembok Besar Hijau Cina yang mencakup wilayah utara, timur laut, dan barat daya. Program ini ditargetkan selesai pada tahun 2050.

Program yang ternyata telah dijalankan selama hampir 40 tahun tersebut sampai tahun 2017 telah menanam 66 juta pohon. Sayangnya, program tersebut kabarnya tidak efektif karena hanya berbentuk seremonial.

“Lewat program Great Green Wall, orang-orang menanam banyak sekali pohon dalam seremonial yang besar untuk melawan meluasnya gurun. Tapi kemudian tidak ada yang peduli (dengan pohon-pohon itu). Mereka akhirnya mati," kata Jennifer L. Turner Direktur Forum Lingkungan Cina di Washington D.C.

Selain itu, sepertinya Cina juga terlalu ngotot untuk menciptakan hutan monokultur untuk menangkal masalah ini dengan dalih agar hutan nantinya juga bisa untuk mengurangi polusi karbon. Padahal hutan multikultur ternyata lebih efektif untuk mengatasi polusi karbon.

Meluasnya wilayah gurun di Cina sepertinya tidak mudah untuk diatasi. Gurun Gobi dapat meluas akibat empat hal yakni Aeolian Desertification, perluasan gurun akibat matinya vegetasi; kemudian hilangnya air dan tanah akibat erosi air yang terjadi di Dataran Loess; Salinization, akibat manajemen air yang buruk; dan Rock Desertification, perluasan gurun akibat karst bebatuan. Sampai dengan tahun 2017 wilayah Cina 27,4 persennya adalah gurun.

Lalu apakah mustahil untuk menghijaukan gurun Cina? Nyatanya di beberapa sudut, program penghijauan benar-benar berhasil. Seperti dalam sebuah dokumenter tahun 2012 berjudul Green Gold yang mengungkapkan bagaimana wilayah tandus di Cina telah berubah menjadi wilayah yang begitu hijau. Sumber air bermunculan dan tanaman-tanaman bisa tumbuh subur. Dokumenter tersebut tentu saja bisa menjadi salah satu kisah sukses dan menjadi kabar baik yang sesungguhnya.

Green Wall Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Bagaimana dengan di Indonesia? Pada tahun 2016 saya sempat mendapatkan kesempatan untuk meliput bagaimana perubahan lahan yang terdegradasi akibat perkebunan berhasil diubah menjadi hutan yang lebat. Program penghijauan ini disebut dengan Green Wall TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango).

Penghijauan tersebut terjadi di daerah Resort Nagrak Sukabumi yang membuat wilayah tangkapan air hujan semakin luas. Dampaknya tentu saja dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Sumber air yang dulunya sempat berkurang, kini semakin bertambah dan terus menerus mengeluarkan air, hewan-hewan liar pun mulai berdatangan. Laporan Conservation International yang kala itu mendampingi juga menjelaskan bahwa di lokasi tersebut sempat dilewati oleh harimau.

Saya telah menyaksikan bagaimana manfaat dari reforestasi atau penghijauan. Sehingga menurut saya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk membiarkan hutan-hutan terluka. Telah ada banyak contoh sukses yang bisa ditiru dan dikembangkan.

Dalam beberapa tahun mendatang, tentu saya sangat berharap agar akan ada kabar baik datang dari hutan Indonesia. Seperti dua negara yang disebut berkontribusi pada penghijauan dunia, Cina dan India. Indonesia seharusnya lebih berhak untuk bisa menempati daftar yang terhormat. Bayangkan jika kita bisa mengembalikan hutan di Kalimantan maupun Papua kembali seperti sediakala.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

2 comments on “Bumi yang Menghijau dan Tembok Besar Hijau Cina”

  1. Penghijauan di Tembok Besar Tiongkok sepertinya merupakan solusi apik ya, Mas. Sebab tingkat polusi di Tiongkok sudah sangat tinggi, lantaran industrialisasi di negara itu.

    Artikelnya menarik. Salam hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.