Alasan Mengapa Pecinta Kopi Harus Peduli Perubahan Iklim

05/02/2019

Kopi saat ini telah menjadi komoditas tren yang diminati di berbagai negara dunia. Konsumsi kopi global setiap tahunnya telah mencapai 156.133 ribu kantong di tahun 2016/17 yang setara dengan 9,36 juta ton. Tidak heran jika kemudian kopi menjadi salah satu komoditas paling populer di dunia.

Tapi ada kabar buruk, perubahan iklim berdampak pada kopi dan keberlangsungan industri.

Bagaimana mungkin? Apa korelasi dampak perubahan iklim dengan kopi?

Saya sendiri mulanya agak kebingungan apa korelasinya. Tapi setelah membaca beberapa referensi, ternyata perubahan iklim yang akan mengubah siklus hujan, iklim dan akhirnya kondisi tanah akan membuat berbagai jenis kopi mengalami perubahan sifat atau bahkan mengalami kepunahan.

Dampak serius yang ditimbulkan adalah di masa mendatang, industri kopi akan banyak mengalami kerugian. Penikmat kopi harus rela untuk membayar kopinya dengan biaya lebih mahal. Sementara para petani kopi yang kebanyakan adalah petani kecil akan terancam tidak memiliki penghasilan.

Konsumsi Kopi
Infogram

Masalah ini menjadi penting karena saat ini kopi telah menjadi komoditas yang sudah menjadi gaya hidup bagi banyak orang. Di tingkat fanatik, ibarat udara, para penikmat kopi tidak akan bisa lepas dari menyeruput kopi memenuhi asupan kafein harian.

Sehari sekali setidaknya mereka mampir ke kedai kopi hanya untuk menghilangkan penat dan bersantai dengan minum kopi.

Belum lagi untuk mereka pecinta kopi yang rela untuk mencicip berbagai jenis varian kopi dengan teknik-teknik yang begitu bermacam-macam untuk memenuhi rasa penasaran. Mereka rela untuk mengeluarkan biaya besar untuk membeli mesin pemroses kopi untuk berbagai jenis biji kopi.

Punya mesin berkualitas dengan mendapatkan biji kopi berkualitas pun ternyata dua hal yang berbeda. Mesin kopi yang begitu mahal juga masih harus didukung dengan biji-biji kopi terbaik yang tak jarang sulit untuk didapatkan. Biji-bijian inilah yang rupanya akan bisa terancam dengan terjadinya perubahan iklim.

Flavour or Coffee by Nathan Dumlao
Berbagai jenis rasa biji kopi

Aaron Davis dkk. yang mempublikasikan hasil studinya melalui ScienceMag mengungkapkan bahwa 60% kopi liar akan terancam punah, sementara 45% persennya belum dikonservasi dan dikoleksi dengan baik. Itu artinya 6 dari 10 spesies kopi liar akan hilang akibat perubahan iklim.

Kepunahan ini bisa terjadi karena perubahan iklim dinilai akan memberikan dampak pada habitat tanaman kopi. Itu artinya, jika habitat-habitat kopi terdampak perubahan iklim, varian-varian kopi akan semakin sedikit jumlahnya. Padahal spesies kopi liar sangat dibutuhkan untuk pengembangan dan keberlanjutan kopi di masa depan.

Para peneliti yang berasal dari Royal Botanic Gardens tersebut menyayangkan kebanyakan peminum kopi hanya mengetahui dua atau tiga jenis kopi. Padahal hingga saat ini, telah ada 124 spesies kopi yang ditemukan di berbagai tempat.

Menariknya kopi-kopi tersebut dinilai memiliki karakter yang bermacam-macam termasuk memiliki sifat-sifat unggul yang bisa digunakan untuk pengembangan kopi seperti toleransi terhadap iklim kering, ataupun tahan penyakit. Sehingga langkah konservasi kopi perlu dilakukan.

Konservasi kopi dinilai penting karena ada banyak jenis kopi yang berpotensi untuk bisa menentukan keberlangsungan kopi di masa mendatang. Kopi-kopi liar yang diduga memiliki kemampuan untuk menentukan bentuk inovasi kopi di masa mendatang. Namun kopi-kopi ini dapat terancam keberadaannya jika perubahan iklim tidak terkendali.

Kabar baiknya, upaya untuk menyelamatkan kopi masih selaras dengan langkah-langkah menyelamatkan hutan. Seperti pencegahan deforestasi, dan penggalakan reboisasi. Lewat cara ini, penyelamatan kopi tentu saja akan sejalan dengan upaya untuk mengendalikan perubahan iklim.

Coffee Beans by Joshua Newton

Upaya Konservasi Etiopia

Seperti yang telah dilakukan oleh Etiopia, salah satu negara produsen kopi terkenal di dunia yang rupanya telah menyadari ancaman ini. Negara tersebut kemudian mengambil langkah untuk membuat wilayah yang dilindungi untuk menjaga spesies kopi liar. Selain itu, Etiopia juga melakukan upaya konservasi dengan mengoleksi spesimen hidup dan membuat sebuah bank benih. Tujuannya adalah untuk penelitian dan juga untuk menjaga agar produk kopi Etiopia tetap bertahan dalam jangka panjang.

Upaya konservasi yang dilakukan Etiopia bisa jadi merupakan respon dari penelitian yang menjelaskan bahwa jika tidak ada pengembangan kopi lebih lanjut, produksi kopi Arabika asal Etiopia bisa menurun hingga 85% di tahun 2080. Penyebabnya adalah karena 65% lahan yang digunakan untuk produksi kopi Etiopia tidak lagi cocok untuk produksi kopi. Bahkan para peneliti juga memprediksi 50% persen lahan di dunia yang digunakan untuk produksi kopi akan tidak bisa digunakan di tahun 2100.

"Dampak perubahan iklim pada kopi Arabika akan mengakibatkan masalah lingkungan, ekonomi dan sosial yang serius, khususnya untuk jutaan petani kecil yang bergantung pada tanaman ini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai jenis kerabat tanaman kopi komersial seperti kopi Arabika menjadi sangat penting untuk menjamin ketahanan dan keberlangsungan kopi untuk menghadapi perubahan iklim dan ancaman lainnya,"

Aaron Davis

Davis kemudian menyarankan perlu adanya sertifikasi bagi setiap produk kopi. Sertifikasi ini akan menilai seberapa ramah lingkungan sebuah merek kopi dan juga seberapa mendukung merek terhadap konservasi kopi.

"Ada berbagai macam jenis sertifikasi namun hanya sedikit yang meliputi perlindungan hutan dan tidak banyak yang menjelaskan dampak negatif produknya pada lingkungan," jelas Davis.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sejauh pencarian yang saya temukan, Kementerian Pertanian RI sebagai institusi yang mendukung para petani kopi berusaha untuk berperan sebagai pengembang dan peneliti kualitas produksi kopi di Indonesia. Penelitian seperti Syakir dan Surmani di tahun 2017 misalnya yang berusaha mengembangkan sistem produksi dan pengembangan kopi di Indonesia untuk menghadapi perusabahan iklim.

Penelitian yang dilakukan Kementan RI setidaknya memperlihatkan perhatian pemerintah terhadap isu perubahan iklim pada kopi. Tetapi jika kesadaran ini hanya terbatas di kalangan industri dan peneliti, agaknya upaya mitigasi untuk mencegah kepunahan kopi tidak akan efektif. Sebab permasalahan perubahan iklim adalah permasalahan masyarakat secara umum yang melibatkan perilaku setiap individu yang berkontribusi membawa jejak karbon.

Bayangkan bila kemudian para pecinta kopi menuntut kopi maupun kedai kopi favoritnya untuk memiliki perhatian pada konservasi hutan dan kopi. Selain akan mengurangi dampak perubahan kopi, para penikmat dan pecinta kopi akan tetap bisa menikmati kopi kesukaannya tanpa perlu khawatir suatu saat kopi akan langka dan lalu menghilang di pasaran.

Padahal, di Indonesia kopi telah menjadi tren kuliner minuman sejak beberapa dekade terakhir. Berbagai variasi kopi asal Indonesia diperkenalkan dan dipromosikan secara masif, baik kopi arabika maupun kopi robusta. Data Kementerian Pertanian RI tahun 2017, ada 21 kopi asal Indonesia yang telah dipatenkan dengan indikasi geografis masing-masing.

Kopi tersebut adalah Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Flores Bajawa, Kopi Java Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Java Preanger, Kopi Arabika Java Ijen Raung, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Lampung, Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing, Kopi Arabika Sumatra Sumalungun, Kopi Liberika Tungkal Jambi, Kopi Robusta Semendo, Kopi Liberika Rangsang Meranti, Kopi Arabika, Sumatra Mandailing, Kopi Robusta Temanggung, Kopi Robusta Empat Lawang, Kopi Arabika Sumatra Kotrintji, Kopi Robusta Pinogu, Kopi Repbusta Pupuan Bali, Kopi Robusta Tambora, Kopi Arabika Sumatra Lintang.

Kita harus bisa menahan laju perubahan iklim yang merusak. Sehingga varietas kopi tetap terjaga. Sebab manfaat dari konservasi kopi bukan hanya untuk para penikmat kopi tetapi juga untuk keberlangsungan alam.

Alam lestari, kopi tetap mewangi.

Saya sendiri memang hanya peminum kopi santai yang tidak terlalu paham bagaimana seni meminum kopi. Namun ketika mengetahui dampak perubahan iklim pada tanaman kopi ternyata cukup serius, saya terdorong untuk membahasnya di sini.

Bagaimana menurutmu? Perlukah para pecinta kopi lebih kritis terhadap setiap kopi yang mereka nikmati demi keberlangsungan alam?


Why Coffee Could Go Extinct In 10 Years

Climate change, deforestation, droughts, and diseases could make the majority of coffee species extinct in 10 to 20 years.

โพสต์โดย Business Insider Today เมื่อ วันจันทร์ที่ 11 กุมภาพันธ์ 2019

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.