Pembahasan tentang perubahan iklim sering kali seakan-akan membuat kita sedang menghadapi sebuah kiamat. Dampaknya yang masif dan global membuat perubahan iklim menjadi isu yang harus dihadapi bersama oleh manusia karena memang manusialah yang mengakibatkannya. Jika terlambat, entah seperti apa situasi kehidupan bumi 11 tahun lagi.

Photo by Ivars Krutainis

Ya, 11 tahun lagi.

Angka ini muncul berdasarkan penelitian Intergovermental Panel on Climate Change yang akhir 2018 yang lalu menerbitkan kajian tentang prediksi dampak perubahan iklim di tahun 2030 dan 2050. Tahun 2030, itu artinya 11 tahun lagi.

Dampak hebat perubahan iklim

Dalam kajian itu jika bumi mengalami kenaikan suhu setinggi 1,5 derajat celsius akan terjadi berbagai masalah lanjutan seperti es yang mencair, kenaikan permukaan laut dan tenggelamnya pesisir.

Perubahan iklim jua akan memicu terjadinya cuaca yang ekstim. Badai yang semakin sering terjadi, angin dan gelombang besar yang mematikan dan suhu panas yang berlebihan.

Dampak lainnya adalah jika suhu bumi meningkat hingga 2 derajat celsius, terumbu karang akan memutih dan mati. Matinya karang akan mengancam keberlangsungan kehidupan laut. Tidak adanya kehidupan laut kemudian akan berdampak pada hasil produk laut dan berimbas pada kehidupan para nelayan dan masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Selain itu, kenaikan suhu akan mengurangi suplai air dari es di pegunungan. Gletser yang semakin menipis akan meningkatkan debit ait yang terbawa menuju muara sungai sehingga terbuang sia-sia. Berkurangnya air di daratan artinya akan meningkatkan jumlah air di lautan.

Sementara para ahli ekologi meneliti dari kurang lebih 105.000 spesies makhluk hidup yang dikenal manusia saat ini, sebanyak 6% serangga dan 8% tanaman dan 4% vertebrata akan terdampak dan hilang lebih dari separuh spesiesnya jika suhu bumi meningkat 1,5 derajat celsius. Angka tersebut akan berlipat ganda jika suhu bumi meningkat hingga 2 derajat celsius.

Dampak-dampak tersebut tentu kemudian akan memberikan efek pada tingkat selanjutnya yakni dampak ekonomi. Aktifitas ekonomi masyarakat akan terganggu karena resiko kegagalan yang semakin meningkat. Resiko ini kemudian akan merembet ke permasalahan berikutnya seperti konflik akibat perebutan sumber daya.

Semua itu terdengar seperti sebuah kiamat yang mengerikan. Sehingga kita dituntut untuk bisa berfikir lebih solutif dan dalam waktu cepat.

Perubahan yang harus dicapai

Target besar yang harus dilakukan tentu saja adalah bagaimana menurunkan emisi karbon yang mengakibatkan efek rumah kaca pada bumi.

Angka yang harus terbilang tinggi yakni 45% di tahun 2030. Padahal saat ini di tahun 2018 angka emisi karbon berada di titik 37,1 milyar ton dengan hampir setiap negara di dunia berkontribusi memberikan peningkatan jumlah emisi karbon dibandingkan tahun 2017. Artinya kita harus berusaha untuk menurunkan jumlah emisi karbon di situasi negara-negara dunia masih net positif emisi karbon.

Global Carbon Budget 2018
Grafis: Global Carbon Project

The Guardian melaporkan bahwa Cina masih mengalami peningkatan sebesar 4,7%, Amerika 2,5% dan India 6,3%. Sementara wilayah yang menunjukkan tren menurun adalah wilayah eropa.

Namun tren menurun yang lambat tidaklah cukup karena untuk mengatasi potensi permasalahan yang terjadi akibat perubahan iklim, mengharuskan tercapainya 0% emisi karbon. Angka ekstrim itu ditargetkan harus tercapai pada tahun 2050 mendatang. Angka ini dibutuhkan karena berapa persen pun emisi karbon yang ada akan tetap berdampak pada peningkatan suhu.

Tidak heran bila kemudian Bill Gates pada tahun 2010 yang lalu di forum TED Conference menekankan pentingnya inovasi hingga ke titik 0%.

Data ini tentu saja mengerikan. Tetapi tidak boleh membuat kita berhenti untuk melakukan sesuatu. Harapan tentu saja tetap ada, meski harus berpacu dalam waktu.

Harapan itu masih ada

Harapan itu terletak pada para generasi-generasi baru yang siap tampil untuk mengubah situasi. Tidak hanya para pemimpin politik dalam konteks negara tetapi juga para pemimpin perusahaan dan lembaga-lembaga non-pemerintah yang perhatian pada isu perubahan iklim. Mereka akan menjaid aktivis-aktivis yang mengubah cara kerja organisasi yang dipimpinnya masing-masing.

Beberapa negara di dunia telah berhenti dan sebagian merancang peraturan pengurangan energi berbasis fosil.

Sementara para petinggi perusahaan berusaha mengubah cara kerja perusahaannya menjadi lebih ramah lingkungan dan sedikit menghasilkan emisi karbon. Tidak heran jika kemudian aktivisme para CEO telah menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Sertifikasi seperti B Corporation kemudian muncul untuk memberikan sertifikasi pada perusahaan yang memiliki perhatian pada keberlangsungan alam. Dalam daftar B Corporation ini muncul nama Danone Aqua yang berbasis di Jakarta.

B Corporation menjadi hal yang menarik karena sertifikasi ini membuat perusahaan tidak lagi semata-mata harus mengakomodir kepentingan pemilik saham yang berorientasi keuntungan. Tetapi orientasi perusahaan berubah menjadi mementingkan alam dan para pelanggan serta pegawai. Sertifikasi ini dinilai menjadi sebuah upaya better capitalism.

Langkah drastis yang dilakukan oleh perusahaan pun mendapatkan dukungan dari para investor. Karena para investor melihat bahwa masalah perubahan iklim tidak lagi merupakan sebuah isu CSR (Corporate Social Responsibily) tetapi sudah menjadi resiko finansial. Resiko yang jika tidak ada perhatian khusus, juga akan berdampak pada bisnis para investor.

Harapan juga muncul dari sektor inovasi ramah lingkungan yang terus bermunculan seperti dalam bidang energi. Inovasi energi ramah lingkungan berdampak pada biaya energi terbarukan semakin murah. Biaya untuk membangun pembangkit listrik terbarukan seperti PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) atau PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) telah kompetitif dengan pembangkit listrik berbasis fosil. Tren ke depan bahkan menunjukkan bahwa tenaga angin dan surya akan lebih murah sepertiga dari tenaga batu bara.

Inovasi-inovasi dan perubahan model bisnis terus terjadi. Inilah harapan yang semoga akan bisa menyelamatkan keadaan sebelum prediksi tersebut terjadi.


Saya pribadi, memang cukup skeptis dengan jangka waktu yang singkat tersebut. 11 tahun adalah waktu yang sangat singkat dan itu berada di masa keemasan generasi seperti saya. Bila prediksi tersebut terjadi, tentu saja akan banyak sekali kekacauan sementara masih banyak negara-negara berkembang yang harus mengubah kebiasaan lama dengan mengandalkan edukasi lintas generasi.

Namun saya optimis perubahan akan terjadi, sebagaimana perkembangan teknologi digital yang melompat eksponensial, langkah menyelamatkan bumi rasanya juga bisa bertumbuh secara eksponensial. Saya membayangkan sebuah bumi yang bisa begitu ramah untuk setiap makhluk di dalamnya. Bebas hidup berdampingan dan saling menjaga satu sama lain.

Utopis? tentu saja, tetapi imaji itu begitu indah sehingga akan terus menginspirasi saya untuk bisa mencapainya. Setidaknya realitanya bisa mendekati apa yang ada di angan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orang ‘biasa’. Sejujurnya ada banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan mendukung perusahaan yang memiliki perhatian pada lingkungan. Sebagai konsumen kita punya kemampuan untuk memilih perusahaan mana yang turut berkontribusi merawat bumi.

Sementara warga negara, kita bisa mendukung para legislatif maupun eksekutif yang memperlihatkan dukungan terhadap penanggulangan isu lingkungan. Dukungan kita menjadi begitu penting karena memang kita memiliki kekuatan tersebut.

Tapi, sebelum itu semua, hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah dengan mengedukasi kita sendiri tentang apa itu isu perubahan iklim. Mulai dari penyebab, tanda-tandanya, dampak-dampaknya hingga cara menanggulanginya.

Bagaimana pendapatmu kawan?

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.