Penumpang Tidak Boleh Bawa Makanan dari Luar Kereta?

24/03/2019

Dimohon untuk tidak membawa makanan dari luar kereta, terima kasih

Kalimat itu terdengar dari sebuah pengumuman di kereta ekonomi jurusan Jakarta-Surabaya beberapa waktu lalu. Saya yang menjadi salah satu penumpang di kereta tersebut terkejut karena baru kali ini pengumuman seperti ini disampaikan di seluruh gerbong.

Saya kemudian berpikir, apakah ini cara PT. Kereta Api Indonesia (KAI) untuk meraup untung melalui makanan di atas kereta?

Sejak manajemen KAI mengatur stasiun dan penumpang kereta, tidak lagi terlihat penjual asongan yang hilir mudik di ketera ekonomi. Hilangnya penjual asongan tersebut kemudian digantikan oleh pramugari dan pramugara kereta yang menjual makanan dan minuman. Mereka menjual makanan-makanan yang lebih "higienis" dan bermerek. Alhasil harga yang ditawarkan melonjak tinggi dibandingkan jika penumpang membeli makanan serupa di luar kereta.

Ini merupakan sebuah teknik upselling yang umum kita temui di pesawat maupun di hotel. Menjual produk dengan lebih mahal dengan alasan tambahan biaya layanan ataupun jasa.

Saya tidak masalah dengan kenaikan harga ini, toh memang makanan yang dijajakan adalah makanan yang sudah dikenal. Namun antara mengimbau penumpang untuk tidak membawa makanan dari luar kereta jelas membuat saya keberatan. Karena saya seharusnya boleh-boleh saja untuk membawa makanan dari luar kereta maupun stasiun dan mengonsumsinya di mana saja yang saya suka.

Dari perenungan ini pun saya berspekulasi, apakah sebenarnya kita boleh membawa makanan ke kabin pesawat? Pernahkah kita mencobanya? Akankah ada larangan untuk membawa makanan ke kabin dan memaksa penumpang untuk membeli makanan di kabin? Sepertinya suatu hari nanti saya bisa mencobanya.

Train Photo by Shane Aldendorff
Photo: Shane Aldendorff / unsplash.com

Kembali ke persoalan makanan di kereta api.

Mendengar himbauan larangan tersebut membuat saya tentu saja tidak nyaman. Sebab saat itu saya membawa makanan nasi bungkus dari sebuah warung tidak jauh dari stasiun. Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman ini saya kemudian memutuskan untuk mencari tahu, apakah benar dilarang untuk membawa makanan dari luar kereta.

Saya kemudian menuju kereta makan yang umumnya berada di rangkaian kereta belakang (biasanya dua kereta sebelum kereta paling akhir). Di kereta ini saya berusaha bertemu dengan pramugari untuk menanyakan perihal himbauan tadi.

Sesampai di kereta makan, ternyata saya langsung menemukan jawabannya di tembok kereta. Di kereta ini saya menemukan himbauan

"Dilarang membawa makanan dari luar"

Ternyata dugaan saya kurang tepat, ternyata larangan untuk penumpang kereta ekonomi hanya sebatas di kereta makan saja.

Lalu mengapa saat itu saya mendengar himbauan larangan dari tempat saya duduk? Saya sih akhirnya berbaik sangka saja, mungkin saat itu pengumumannya bocor ke kereta-kereta. Sementara seharusnya pengumuman itu ditujukan untuk penumpang yang makan di kereta makan.

Di kereta makan itu kemudian saya mengamati bagaimana kondisi ruangnya. Kalau dipikir-pikir, melarang penumpang untuk tidak membawa makanan dari luar adalah larangan yang alih-alih memberi kenyamanan, larangan ini malah membuat rasa sebal. Sebab kereta makan yang disediakan setidaknya hanya muat untuk 20 - 30 penumpang. Tentu tidak sebanding untuk seluruh penumpang kereta yang total bisa mencapai 1.000 penumpang lebih.

Kemudian alasan lain kenapa himbauan ini kurang baik untuk penumpang adalah karena perjalanan memakan waktu hingga 11-12 jam. Perjalanan sejauh ini tentu saja membutuhkan waktu istirahat untuk makan. Moda transportasi lain yang memiliki waktu perjalanan selama ini minimal akan memberikan konsumsi secara gratis pada penumpang atau berhenti di sebuah lokasi makan.

Hingga saat ini, hanya kereta eksekutif saja yang memberikan konsumsi secara gratis pada penumpang. Selebihnya, penumpang harus membeli makanan dari luar kereta atau di atas kereta.

Saya rasa, jika ke depan PT KAI berpikir untuk berusaha mengambil untung dari pemasukan restoran kereta, sebaiknya berpikir ulang untuk kereta-kereta jarak jauh. Sebab menurut saya akan lebih banyak kerugiannya bagi penumpang dan itu akan berdampak pada reputasi KAI sendiri.

Nah, untuk mengobati rasa kesal saya saat itu, saya akhirnya memutuskan untuk membeli makanan andalan yang rasanya hanya nikmat dikonsumsi saat bepergian: pop mie. Asupan micin yang ternyata hanya dijajakan oleh kereta di malam hari. Menu ini biasanya hanya muncul saat jam-jam menjelang tidur sekitar pukul 9 malam ke atas.

Pop mie menjadi pelipur kegelisahan saya soal himbauan tadi. Menu yang setuju jika hanya diperbolehkan untuk ada di kereta api. Bagaimana menurutmu?


Mulanya mau menampilkan foto-foto ruang kereta makan. Tapi ternyata file foto dokumentasinya terhapus dari gawai. Jadi ya mohon maaf tanpa dokumentasi yang jelas.

Bagus Ramadhan

Eks jurnalis yang menjadi Travel Blogger untuk menginspirasi petualang mendalami isu pariwisata, sosial, lingkungan, dan inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.